Just Exploring My Mind

Pinggiran Kota Shanghai

Pada tanggal 1 desember 2008 sampai 30 desember 2009 saya diberi kesempatan oleh perusaahaan tempat saya bekerja untuk melakukan tugas kerja ke kota Shanghai. Seperti layaknya orang indonesia, tugas kantor dilakukan ‘paralel’ dengan mengamati keadaan sekitar sekaligus jalan-jalan. Tapi sebenarnya bukanlah itu yang akan diceritakan, melainkan bagaimana mengambil pelajaran dari perjalanan ke kota tersebut.

Partner dari perusahaan tempat saya bekerja bernama Shanghai Electrical Engineering (SEEC) yang berlokasi di pinggiran kota Shanghai atau lebih terkenal dengan sebutan Dongchuan lu (jalan Dongchuan). Disana terdapat lebih dari 10 buah gedung bertingkat sehingga bisa disebut sebagai kompleks perkantoran. Hal yang paling diingat dari gedung-gedung tersebut adalah gedung bertingkat di belakang bertuliskan Intel. Ya, intel merupakan raja dalam perangkat komputer beberapa dasawarsa ini.

Saya sendiri menginap di sebuah apartemen sederhana (mirip rusunami). Disana terdapat banyak sekali rusunami baik itu untuk kalangan atas, menengah bahkan miskin. Hal yang dapat dimaklumi di negeri cina, karena hampir bisa dipastikan bahwa kepermilikan pribadi atas rumah beserta lahan sangat sedikit sekali. Cina berpenduduk lebih banyak dari indonesia sehingga untuk memaksimalkan lahan yang ada dibangun lah rusunami-rusunami untuk rakyatnya. Sekitar 100 meter di depan apartemen yang saya tempati terdapat sebuah universitas bernama Jiao tong university. Kurang lebih 500 meter dibelakang apartemen terdapat sebauh pasar tradisional dan modern, 800 meter dari apartemen terdapat pusat perbelanjaan. Perjalanan dari apartemen menuju komplek perkantoran dapat ditempuh lebih kurang 1 kilometer

Hari kedua disana saya memulai melakukan aktifitas pekerjaan. Pergi agak siang kira-kira pukul 08.30 dengan menggunakan bus. Memang jam 8,30 bukanlah sesuatu yang wajar di indonesia untuk memulai aktifitas kantor, namun ketika itu shanghai sedang mengalami musim dingin ‘menggigil’ dengan suhu dibawah 10 derajat. Sesampainya di kantor saya mulai membuka laptop dan meng ‘connect’ kan diri pada internet. Seketika yahoo messenger pun terbuka, dan ada hal yang menarik kerika berbincang-bincang dengan paman saya, seorang wartawan dari surat kabar nasional, Beliau bilang banyaklah mengambil pelajaran dari cina baik itu secara culture ataupun karakter karena bagaimanapun karakteristik indonesia mirip dengan cina terutama ditinjau dari jumlah SDM.

Marilah kita mulai berbicara sedikit mengenai kota pinggiran ini. Hal yang teramat istimewa adalah biaya hidup di kota tersebut yang sangat murah. Biaya hidup yang dimaksud disini adalah biaya untuk berkonsumsi dan bertransportasi.

Berhubung ketika semester terakhir saya menfokuskan diri pada transportasi, terutama soft transpot, maka pembicaraan pertama kita adalah mengenai transportasi. Seperti dijelaskan sebelumnya, pada jalan Dongchuan tersebut terdapat tempat -tempat yang tidak begitu berjauhan (< 1km) antara pemukiman penduduk, universitas, perkantoran dan pasar. Hal ini sangat menarik karena akibat jarak yang berdekatan antara keempat tempat ini menyebabkan pergerakan manusia begitu optimal.

Kita ketahui di zaman sekarang ini, kampus merupakan pusat penelitian sekaligus penyuplai tenaga kerja bagi suatu perusahaan. Suatu saat saya pernah sedikit melakukan perbincangan dengan lead mechanical engineer SEEC. Setelah selesai berbincang-bincang urusan kerja kemudian dilanjutkan dengan perbincangan lainnya. Ada satu hal yang menarik dari perbincangan tersebut, yaitu beliau adalah seorang dosen di universitas terdekat. Jelas sekali dari sini bahwa kampus, tempat pekerjaan dan pemukiman memiliki keterkaitan yang saling berhubungan.

Dalam dunia transportasi dikenal istilah bangkitan dan tarikan. Bangkitan adalah suatu pergerakan dari zona asal sedangkan tarikan adalah pergerakan menuju zona tujuan. Suatu pergerakan selalu mempunyai maksud/tujuan pergerakan, menggunakan moda dan melalui tempat/infrastruktur/prasarana pergerakan. Pemilihan moda akan dipengaruhi diantaranya oleh elemen-elemen biaya, waktu tempuh, kenyamanan sedangkan prasarana pergerakan akan sangat dipengaruhi oleh aksesibilitas.

Pada pagi hari pergerakan didominasi oleh perjalanan menuju tempat pekerjaan. Pergerakan menuju kampus hampir tidak ada karena kampus Jiao tong memiliki asrama bagi mahasiswanya. Dalam hal ini zona bangkitan adalah apartemen sedangkan zona tarikan adalah kompleks perkantoran. Sore hari adalah sebaliknya. Pergerakan diruas jalan menjadi sangat efektif karena kedua zona tersebut tidak begitu berjauhan. Hal lain yang mendukung adalah transportasi massa seperti bus yang menjadi motor pergerakan di dongchuan begitu diminati oleh pengguna moda transportasi. Ini bisa dimaklumi mengingat begitu murahnya moda transoprtasi bus bila dibandingkan dengan taksi. Walaupun terkadang terjadi perebutan ‘memakai’ moda bus pada pagi dan sore hari. Dengan alasan tersebut, pemakain kendaraan pribadi menjadi sangat jarang selain ditunjang oleh kesadaran bertransportasi masyarakat di daerah tersebut.

Dongchuan memiliki jalan raya dengan lebar kurang lebih 10 meter. Disisi kanan dan kiri jalan terdapat ruas jalan khusus sepeda dan motor dengan beraneka tumbuh-tumbuhan dipinggirnya. Jika kita meninjau dari sisi aksesibilitas, jalan tersebut sangat mencukupi untuk menampung pergerakan baik itu pergerakan puncak di pagi hari maupun sore hari. Perkerasan nya pun tidak digerogoti dengan lubang-lubang yang akan menggangu pada saat berkendaraan. Pendek kata, selama berada disana saya sekalipun belum menemukan suatu kemacetan.

Biaya konsumsi di pinggiran kota shanghai ini mengikuti kecenderungan biaya transportasi. Kita ketahui biaya transportasi menjadi elemen pendukung bagi biaya lainnya. SDM yang berlimpah merupakan keuntungan tersendiri bagi china dimana akan banyak yang dapat dipekerjakan sekaligus sumber pemasaran yang sangat potensial.

Disisi lain, selama saya berada disana belum sekalipun saya menemukan mesjid sebagai tempat peribadatan. Menurut seorang teman, mesjid sangatlah jauh dari tempat saya menginap. Hal ini dimungkinkan karena pengaruh ideologi komunis di masyarakat china. Kebiasaan meludah di tempat dan waktu yang tidak tepat juga merupakan hal yang begitu buruk.

Pagi hari tanggal 30 desember sekitar pukul 09.30 saya take off dari bandara Pudong Shanghai menuju indonesia. Suatu kenangan yang berkesan ketika baru pertama kali berada di pinggiran kota shanghai.
gbr bgbr a

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: