Just Exploring My Mind

Ketika itu saya sedang duduk pada semester 5 perkuliahan dari 8 semester, aktifitas himpunan selepas kuliah dikelas selalu berakhir di pertengahan malam. Kondisi yang demikian, selalu menuntut saya untuk tidak langsung pulang ke rumah, tetapi ikut menginap di rumah seorang teman. Kebetulan rumah teman tersebut satu wilayah dengan rumah saya walaupun agak sedikit berjauhan.

Hari itu aktifitas di kampus berakhir sekitar pukul 1 pertengahan malam. Seperti biasa, saya tidak langsung pulang menuju rumah, tetapi menginap di rumah teman. Ketika tubuh akan dibaringkan, saya melihat kira-kira setengah meter disamping saya terdapat sebuah buku tergeletak diatas meja. Buku itu berjudul ‘mengenal Allah lewat akal (Allah is known through reason)’ yang dikarang oleh Harun Yahya. Tanpa pikir panjang, saya meminjam buku tersebut untuk sekedar mengetahui isinya.

Ada suatu bab yang terus saya ingat sampai sekarang, yaitu bab 10 ‘Pemahaman materi yang tidak materialis’. Bab ini menjelaskan salah satunya mengenai dunia luar dalam otak kita. Dunia luar yang digambarkan oleh agama sebagai dunia yang semu, karena yang nyata dan kekal justru adalah alam akhirat. Mari kita sedikit mengupas tentang hikmah apa yang dapat kita tarik dari penjelasan bab ini.

Dari kenyataan fisik yang digambarkan sejauh ini, segala yang kita lihat, rasakan dan dengar sebagai zat, dunia atau alam semesta hanya merupakan sinyal-sinyal listrik yang terjadi pada otak kita. Orang yang makan buah tidak bertentangan dengan buah yang sebenarnya, tetapi dengan persepsi otaknya. Objek yang ia perhatikan sebagai buah itu sebenarnya kesan elektrik dalam otak perihal bentuk, rasa, bau dan tekstur buah. Jika syaraf penglihatan yang bergerak ke otak itu terserang mendadak, maka kesan buah itu akan hilang. Begitu juga dengan bau, persepsi yang sampai pada otak kita merupakan penerjemahan dari pesan – pesan elektrik pada syaraf. Sederhana saja, buah tersebut tidak ada, yang ada adalah penafsiran otak terhadap sinyal-sinyal listriknya. Begitu juga ketika kita mendengar suatu suara di televisi. Suara yang sampai pada kita merupakan penerjemahan informasi elektrik pada otak kita. Jadi sebenarnya, suara tersebut tidak sampai pada diri kita, yang sampai hanyalah sinyal-sinyal listrik pada otak. Akibat dari ransangan semu, alam luar seakan-akan benar dan nyata seperti yang nyata terbentuk dalam otak kita tanpa keberadaan alam luar.

Dunial luar yang tersaji untuk kita melalui penginderaan kita hanya merupakan kumpulan sinyal listrik yang sampai ke otak kita. Sepanjang hidup kita, otak kita memproses sinyal-sinyal ini dan kita hidup tanpa mengakui bahwa kita salah dalam mengasumsikan bahwa hal ini merupakan versi asli benda-benda yang ada di ‘alam luar’. Kita tersesat karena kita tidak dapat mencapai zat-zat itu sendiri dengan perantara indera kita. Ternyata yang ada dalam otak tersebut hanyalah kumpulan persepsi. ‘Dunia luar’ sepenuhnya bergantung pada pihak penerima.

Temuan-temuan fisika modern mengindikasikan bahwa alam semesta merupakan kumpulan cerapan. Berkeley, seorang pakar terkemuka juga menunjukkan hal ini,
“Pada awalnya, diyakini bahwa warna, bau dan lain-lain benar-benar ada, tetapi selanjutnya pandangan demikian ditinggalkan dan terlihat bahwa itu semua bergantung pada penginderaan kita belaka”.

Siapa Pencerapnya
Seperti yang telah kita hubungkan sejauh ini, tiada keraguan bahwa dunia yang kita tempati atau kita sebut dunia luar itu kita cerap dalam otak kita. Jika semua kejadian fisik adalah persepsi, lalu apakah otak kita juga merupakan persepsi, karena otak kita juga merupakan bagian dari dunia fisik.

Ketika otak diteliti, itu hanyalah bongkahan daging yang didalamnya terdapat kumpulan molekul protein dan lipida, yang juga terdapat pada organisme lainnya. Artinya, dalam sepotong daging tersebut tidak satupun terdapat suatu pesan yang menyimpulkan atau yang menciptakan sesuatu yang kita sebut ‘saya sendiri’.

Ketika menebarkan pertanyaan ini, kita ketahui tidak masuk akal mendapatkan kehendak atau persepsi di dalam atom-atom pada otak. Mari bercerita sejenak tentang mimpi. Di dalam mimpi kita akan memiliki tubuh khayal, mata khayal dan otak khayal. Ketika kita bermimpi kita bisa mempersepsikan sesuatu seperti misalnya sebuah pertanyaan “dimana kamu melihat”, lalu dijawab “saya melihat didalam otakku” akan tetapi sebenarnya itu bukanlah otak yang berbicara, tetapi kepala khayal dan otak khayal.

Dari ikhtisar diatas, jelaslah bahwa sesuatu yang melihat, mendengar dan merasakan adalah sesuatu berbahan unggul. Sesuatu itu bukanlah materi ataupun gambaran materi. Sesuatu itu ada hubungannya dengan perepsi-persepsi didepannya dengan menggunakan gambaran tubuh ini. Sesuatu itu adalah ‘roh’.

Kumpulan cerapan yang kita sebut “alam materi” ialah suatu mimpi yang diamati oleh roh. Karena tubuh yang kita miliki dan dunia materi yang kita lihat dalam mimpi kita tidak memiliki realitas, alam semesta yang kita huni dan tubuh yang kita miliki juga tidak memiliki realitas material.

Yang keberadaannya nyata adalah roh. Zat hanya terdiri dari cerapan-cerapan yang dipandang oleh jiwa. Mahluk yang cerdas yang mempersepsikan dunia ini bukan merupakan lompatan atom dan molekul serta reaksi kimia antara lompatan atom dan molekul.

Yang keberadaannya pasti nyata
Semua pertanyaan ini membawa kita langsung ke satu pertanyaan yang sangat penting. Jika sesuatu yang kita kenal sebagai alam materi hanya terdiri atas persepsi yang dilihat oleh roh kita, lantas apa saja sumber-sumber persepsi ini.

Bentuk fisik (zat) yang dipersepsikan oleh kita tidak dapat mengatur dirinya sendiri. Karena merupakan persepsi , maka keberadaan fisik (zat) ini adalah semu. Dengan kata lain, persepsi-persepsi ini pasti diakibatkan oleh kekuatan lain yang berarti diciptakan. Penciptaan ini harus kontinu, karena jika penciptaan ini tak kontinu maka persepsi itu akan lenyap dan hilang. Ini bisa dianalogikan seperti televisi yang gambarnya tidak akan hilang selama sinyalnya terus disiarkan..

Hal ini merupakan bukti bahwa ada Pencipta yaitu ALLAH SWT yang menciptakan seluruh semesta materi, yaitu sekumpulan persepsi, dan melanjutkan penciptaanya dengan tiada henti. Karena Pencipta ini menampilkan suatu ciptaan yang menakjubkan, Dia pasti pencipta yang abadi.

“sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya tidak lenyap, dan sungguh kalau keduanya akan lenyap, tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya Selain Dia. Sesungguhnya, Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Al-faathir ;41)

Karena segala yang material itu merupakan cerapan, materi-materi itu tidak bisa melihat Allah, tetapi Allah yang melihat materi yang Dia ciptakan dalam segala bentuknya
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, tetapi Dia dapat melihat segala yang terlihat…” (al-An’aam ;103)

Banyak manusia yang tidak mengakui kebenaran ini dan justru menipu diri sendiri dengan menganggap bahwa yang ia miliki benar-benar ada. Ia akhirnya meninggal dan di hari kemudian segalanya akan jelas ketika ia dibangkitkan lagi
“Penglihatanmu pada hari itu amat tajam”(Qaaf ; 22).

Wallahu ‘alam

Demikian kira-kira isi buku itu yang intisarinya masih saya ingat sampai sekarang. Teman tersebut akhirnya bukan meminjamkan tetapi memberikan buku tersebut pada saya. Sampai hari ini, buku tersebut masih tersimpan di lemari dengan rapi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: