Just Exploring My Mind

Pada suatu saat di suatu ruangan menghadaplah seorang engineer kepada bosnya (Project Manager) untuk mempertanggung jawabkan hasil pekerjaannya. Dimisalkan nama engineer itu E dan bos nya bernama B ;

Bos : wah kita rugi di pile nih. Di tender, jumlah pile diameter 600 mm
untuk bangunan ini sekitar 400 buah. Koq lo desain bisa sampai 600 buah gini si? Lo salah ngitungnya kali ?

Engineer : wah ini desain udah saya review 2 kali Pak. Wajarlah jadi 1.5 kali lebih banyak, kan ada kenaikan di beban gempa. Dulu pas tender, kita pake PGA (Peak Ground Acceleration) 0.3, sekarang setelah dilakukan soil investigation PGA jadi 0.32, mana equipmentnya sekarang tambah berat pula, yah pastinya ngaruh banget ke struktur yang ujung-ujungnya pile juga kena dampaknya.

Bos : iyah gw ngerti, cuman koq pertambahannya bisa 1.5 kali lipatnya. Lo boros nih desain.

Engineer : ya ampun pak, ini saya desain dah ngikut code dan standar lainnya. Mana gaya dalamnya udah dibedain ga disamaiin. Biar hasilnya ga konservatif banget.

Bos : gimana donk gw rugi nih ?

Engineer : wah koq nanya ke saya pak, mana saya taw. Desain pondasi bangunan gede aj baru sekarang. Kan saya baru lulus 1 tahun kemarin.

Bos : gini deh, Moment di pile itu kan makin ke bawah makin kecil. Kita bedain aja tulangan pile nya makin ke bawah. Satu pile kita kan dalamnya 40 meter ke bawah. Jadi makin ke bawah makin jarang. Gmn ? nanti kita minta ke vendor yang pabrikasi pile buat dibedain. Lumayan kita bisa hemat cost disini.

Engineer : memang secara kalkulasi kayanya bisa pak. Cuman sepengetahuan saya, ini ga umum dilakukan.
Bos : yah lo, pile ditanam didalam tanah aja koq, ga kan keliatan. Yang penting kan bangunan kita aman. Masa lo maw ngubur duit dalam tanah.

Engineer : wah saya kira itu nyrempet-nyrempet korupsi pak ?

Bos : Hahahaha, emang rekayasa sama korupsi itu bedanya tipis.

Engineer pun keluar ruangan dengan hati masih bertanya-tanya

Di suatu restoran, dua orang yang menggeluti ekonomi sedang berdiskusi masalah century. Salah satu dari orang tersebut merupakan ekonom senior dan lainnya merupakan mahasiswa ekonomi semester 7. Kita sebut ekonom senior itu dengan S dan satunya lagi J.

J : bos, gue denger bail out century itu bermasalah yah ?

S : Bermasalah dari mana. Lo jangan terbawa-bawa pemberitaan yang menyesatkan lah. Emang century itu perlu diselamatkan, berdampak sistemik klo ga diselamatin.

J : Parameter sistemiknya apaan emang? Kan uang 6.7 trilyun itu bukan uang sedikit. Mana itu uang negara pula via LPS. Jadi menurut gue harus terukur kriteria sistemiknya.

S : yah sistemik memang banyak ukurannya, diantaranya secara psikologis. Ditakutkan kalau tidak diselamatkan bisa terjadi rush di dunia perbankan. Lo maw terjadi lagi kaya krismon 1997/1998.

J : Bukan kaya gitu, kita kan pernah dapet kejaidian BLBI, dimana duit ratusan trilyun kabur entah kemana. Kasus ini kan mirip-mirip kaya BLBI. jadi seharusnya memang kita lebih berhati-hati. O iya, mengenai kriteria sistemik, gue pernah baca disuatu media, bahwa di eropa ada semacam MoU antara sesama lembaga pengawas keuangan uni eropa, dalam penetuan kriteria sistemik itu harus terukur dengan indikator-indikator yang kuantitatif, yaitu aspek institusi keuangan, pasar keuangan, sistem pembayaran dan sektor riil. Disitu tidak disebutkan dampak psikologis, soalnya kalo dampak psikologis itu akan sangat subjektif.

S : yah pertanyaan gue di awal, lo maw kejadian kaya 98 ? soalnya pas century diputuskan untuk di bail out, pasar keuangan sedang dilanda krisis akibat brangkutnya lehmann brother. Jadi kalau krisis sedang terjadi seperti itu, terus muncul bank yang ditutup, ditakutkan terjadi ketidak percayaan masyarakat terhadap dunia perbankan kita yang mengakibatkan rush dimana-mana. Yah gw kira para pengambil keputusan tidak maw mengambil resiko itu.

J : yah sayangnya itu, dari kriteria-kriteria yang ada, yang jadi standar buat di bail out hanya kriteria psikologis. Sedangkan kriteria psikologis itu ga bisa diukur. Oo, iya berdasarkan laporan BPK terdapat banyak kejanggalan di bank century ini, diantaranya bank ini dari semenjak lahir sudah ‘cacat’, terus menurut berita yang dilansir dari media, BPK menyatakan tertanggal 31 oktober 2008 rasio kecukupan modal (CAR) bank century -3.53 %. Alih –Alih ditutup, pemerintah melalui Bank Indonesia justru menggelontorkan dana fasilitas pinjaman jangka pendek. Bank Century pada 30 oktober 2008 mengajukan permohonan Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) ke bank Indonesia sebesar 1 trilyun. Permintaan serupa dilayangkan 3 november 2008. Pada 14 november 2008, Bank indonesia mengucurkan dana ke Bank Century dalam tiga tahap. Tahap pertama (14 november 2008) dikucurkan Rp 145 miliar, dan aliran ke tiga (18 november 2008) dikucurkan Rp 187 miliar. Total FPJP Rp 689.39 miliar. Hal tersebut penuh kejanggalan. Temuan BPK, bank indonesia merekayasa aturan sehingga bank century bisa mendapat fasilitas FPJP. Dalam aturan BI No. 10/26/PBI/2008 syarat bank bisa mendapat FPJP adalah memiliki CAR minimal 8 %. Pada waktu itu bank century memiliki CAR 2.35 %. Aturan ini diubah oleh BI dengan minimal CAR positif bisa mendapatkan FPJP. Diduga aturan baru dibuat untuk memuluskan pengucuran FPJP terhadap bank century. Dengan demikian spekulasi bermunculan bahwa pengucuran bail out terkait dengan pembiyaan dana suatu partai politik tertentu. Karena yang menjadi janggal juga adalah mengapa BUMN dan pengusaha-pengusaha kelas kakap menyimpan uang mereka di bank century.

S : Perubahan mengenai minimum CAR yang dikeluarkan BI untuk mendapatkan FPJP merupakan respon terhadap ketahanan perbankan yang waktu itu sangat mengkhawatirkan. Kan waktu itu lagi krisis., tetapi tidak dimaksudkan untuk kepentingan bank tertentu. Jadi balik lagi ke sistemik tadi, dimana ketakutan terjadi guncangan secara psikologis.. Lagian setelah bank menerima FPJP, bank tersebut akan berstatus menjadi dibawah pengawasan khusus.

J : yang jadi masalah adalah kenapa ga ditutup aja dari awal. Terus perlu di soroti juga, terjadi penyalahgunaan kewenangan, dimana ada perturan yang belum di diputuskan bersama dengan DPR, tetapi telah dipakai sebagai dasar dalam masalah bail out century.

S : yah itu seperti ‘think out of the box’ yang dikenal dalam ilmu managemen, kita berani mengambil resiko ketika krisis.

J : yah tapi setelah keputusan itu diambil tetap harus dipertanggung jawabkan kan ?, gue hanya berpikir ketika sekarang terjadi krisis listrik yang salah satu penyebabnya karena kekurangan dana dalam pembangunan infrastruktur pembangkit, ehh ini malah mudah begitu saja gelontorkan dana 6.7 trilyun. Jadi gue berpikir seperti ada ketimpangan disini.

Mereka pun terus berdebat sampai ketika restoran tersebut akan tutup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: