Just Exploring My Mind

                       Bali, setiap menit yang kuhitung 
                       

 

Selesai resepsi pernikahan, aku dan istriku berembuk tentang mengisi jatah liburan satu minggu ke depan. Harap dimaklumi, walaupun kami dua sejoli pengantin baru, setelah seminggu resepsi aku harus meninggalkan istriku untuk kembali ke proyek. Ya, inilah realitas kebanyakan buruh konstruksi, tak mengenal waktu dan kondisi. Terbesit dalam benak sepertinya aku hidup di zaman wajib militer perang dunia dulu, walaupun belum pernah merasakan tapi pernah melihat beberapa film dvdnya. Namun satu hal yang pasti, selama status gelar ku masih pekerja, jangan harap rutinitas pekerjaan dapat kuatur sendiri.

Satu hari sebelum keberangkatan, aku dan istriku belum memutuskan akan pergi kemana. Buka google lalu lihat blog orang-orang untuk mendapatkan referensi. Akhirnya diputuskan pergi ke bali. Ketika itu juga, kami langsung mencari tiket dan penginapan. Hanya tiket yang berhasil di dapat sedangkan penginapan nihil. Dengan membaca sebuah referensi blog, diputuskan menetap di seminyak selama liburan. Perkara hotel akan dicari sewaktu sampai di seminyak.

Kami berangkat selasa, 5 juni 2012 setelah shalat subuh. Aku sebenarnya baru pertama kali pergi ke bali, sedangkan istriku mungkin sudah ke sekian kali. Maklum, istriku asli dari gresik sehingga bali sudah seperti Bandung – Banten. Pergi ke bandara setelah shalat subuh terasa pergi ke Banjarmasin untuk kembali ke proyek, Begitu mengantuk, jenuh dan kaki pegal-pegal karena posisi yang selalu duduk terus. Mungkin tubuh ini sedikit protes jika menaiki pesawat kelas ekonomi di pagi hari. Sudah saatnya menaiki pesawat dengan posisi badan tertidur seperti iklan garuda tempo hari di televisi. Ahh, aku tersadar tiket seperti itu mungkin akan didapat oleh seorang direktur. Selama posisi masih prajurit, nikmati saja fasilitas yang diberikan.

Ketika pesawat dalam posisi akan mendarat, dibalik kaca pesawat aku melihat bandara udara Ngurah rai bali. Subhanallah, bandara ini memang bagus karena dibangun dekat dengan pantai, sehingga nuansa bali benar-benar terasa ketika masih di pesawat. Walaupun sebenarnya ini perasaan kedua kali, karena aku pun pernah merasakan hal itu dahulu ketika perjalanan shanghai-jakarta dimana transit dahulu di ngurah rai. Hanya saja ketika kaki menginjak ke ruangan pengambilan bagasi, sempat terpikir betapa mahalnya biaya untuk membuat bandara ini. Bisa dibayangkan, berapa ribu m3 pasir yang harus diurug untuk membuat runway bandara. Ataupun jikalau memang dahulu daratan, menurut pengalamanku bergelut di proyek, rata-rata kondisi tanah di daerah pantai adalah sangat lunak. Kedua kondisi diatas benar – benar harus memperhitungkan terjadinya settlement di daerah runway. Pembahasan mengenai sisi engineering pada saat pembangunan bandara ngurah rai dahulu, akan menjadi sisi yang menarik. Yes, only engineer  can make it happen, and Iam proud of being engineer.

Keluar dari bandara, terpampang jelas didepan bahwa bandara ngurah rai sedang melakukan renovasi dan pengembangan bandara. Beberapa tower crane sedang beraktifitas seperti layaknya di film spiderman terbaru. Mungkin ke depan tempat pengambilan bagasi tidak akan sesempit seperti yang sekarang ini. Kaki kami kemudian melangkah ke tempat taxi untuk pembelian tiket taxi. Diantarlah kami oleh pengemudi taxi ke petitenget seminyak. Di perjalanan menuju hotel, aku tak melihat pengamen dan pengemis sedikit pun di jalan layaknya di Jakarta. Mungkin karena industri kreatif dan UKM di bali tumbuh subur. Sampai di hotel, yang bernama centra taum, kami menanyakan ketersediaan kamar hotel. Alhamdulillah, tepat jam 1 siang akan ada yang check out, sementara waktu saat itu menunjukkan jam 11.20 siang. Waktu 1 jam 40 menit kami pergunakan untuk duduk-duduk santai di lobi hotel.

 

 

Image

 

Di depan lobi terdapat kolam renang berbentuk persegi panjang. Hotel ini begitu eksotik, dengan perpaduan warna yang pas sehingga perspektif ruangan menjadi sangat nyaman. Tak terlihat memang khas arsitektur bali di hotel ini namun perpaduan simple dan modern begitu terasa di mata. Tepat jam 1 siang, aku memasuki kamar hotel. Wow, interior kamar hotel ini juga begitu bagus. Aku memutuskan untuk beristirahat, karena lelah perjalanan dari pagi hari.

Jadwal pertama kami adalah makan malam di Potato head. Kami berangkat tepat jam 10.00 malam menggunakan taksi. Waktu tempuh centra taum ke potato head adalah kira-kira 10 menit. Ketika aku turun dari taksi, wow kulihat bangunan bercorak seni aku lihat di depan mata.

Image

Memasuki lorong, kami berdua disediakan pilihan western food atau asian food. Sontak waktu itu, kita memilih asian food. Untuk asian food, dari arah masuk berbelok ke kiri, sedangkan jikalau memilih western food mengambil belok ke kanan. Aku dan istriku kemudian makan sambil menikmati suasana pantai di potato head. Sangat disayangkan, kita makan pada malam hari, padahal jikalau sore hari kemungkinan untuk menikmati menu potato sembari melihat sunset  menjadi hal yang sangat menarik.

ImageImageImage Image

Kira-kira pukul 12.30 kami kembali ke hotel. Sebelum meninggalkan potato head, kami menyempatkan diri untuk mengambil foto.

ImageImage

Keesokan harinya, rabu 6 juni 2012 ketika sang matahari mulai muncul dipulau dewata, acara dimulai dengan berenang. Pagi – pagi sekali sekitar pukul 07.30 aku menuju kolam renang.  Istriku tidak ikut serta, nampaknya dia sedikit malas untuk berdingin-dingin di pagi hari walaupun sebenarnya membawa baju renang muslimah. Sebenarnya aku agak kikuk jg berenang di pagi hari, karena tampaknya kolam renang masih dibersihkan. Tapi ketika itu aku pasang sikap cuek, toh ketika berenang aku ditemani bule-bule yang berenang juga. Aku berenang mengitari hampir 5 putaran searah panjang kolam renang. Sekitar pukul 08.15 aku bergegas mandi untuk persiapan sarapan pagi.

Menu sarapan pagi yang disajikan cukup menarik. Aku mengambil kentang rebus, sosis, roti, telur dadar gulung. Namun ternayata, karena menu makanan tetap selama 3 hari kedepan, maka menu sarapan pagi ku pun tetap selama 3 hari kedepan.

Matahari mulai setengah perjalanan menuju tempat teriknya, itu tandanya travelling di bali harus segera dimulai. Tujuan kami pertama adalah pantai kuta dan garuda wisnu kencana (GWK). Walaupun istriku pernah bekunjung ke kuta sebelumnya, namun rute perjalanan dari seminyak ke kuta diantara kami tidak ada yang mengetahui, Apalagi ke GWK. Hanya berbekal peta bali di tangan, kami siap berangkat dengan sepeda motor sewaan. Perempatan lampu merah pertama, kami sempat nyasar, namun dapat kembali menemukan jalan yang benar menuju kuta dengan bermodalkan bertanya pada masyarakat di sekitar jalan raya.  Di sepanjang jalan kute terlihat begitu banyak penjual souvenir, deretan pertokoan mengingatkanku akan bandung, jalan sempit,penuh pertokoan serta banyak kendaraan parkiri di pinggir jalan. mendekatikuta, perkerasan tidak lagi memakai aspal tapi memakai bata cetakan. Perkerasan seperti ini mirip dengan di  sepanjang jalan braga, bandung serta di kualalumpur Malaysia.

Kami berdua menyusuri pantai kuta dibawah terik matahari. Pantai ini bagus tapi kelihatan begitu tak terawat. Nampaknya kuta hanyalah tempat yang cocok untuk shopping dan melihat deburan ombak.

 Image

Setalah dirasa cukup di kuta, kami berangkat menuju GWK. GWK nantinya  akan menjadi pusat kesenian bali. Patung wisnu sedang dengan menaiki garuda  dalam ukuran raksasa akan dibuat. Dari tempat yang aku kunjungi selama di bali, menurutku GWK tempat yang excited bagi ku. Ukiran, tempat pertunjukan sampai balai perkumpulan lengkap berada di GWK. Sekitar pukul 16.00 kami pulang ke hotel.

 ImageImageImageImage

Keesokan harinya travelling dimulai pukul 09.00. Rute kali ini adalah menjelajahi daerah uluwatu. Rencana tempat seperti beach point, padang beach, dreamland adalah tujuan kita berdua. Hari ke dua travelling ini, aku sudah memahami jalan menuju tempat tersebut, karena aku telah meretas jalan menuju uluwatu pada hari pertama walaupun hanya sampai ke GWK.

Beach point merupakan surga bagi para surfer. Selain tempatnya yang elok, ombak di beach point begitu besar. Kami berdua begitu lama menikmati beach point dari ketinggian, karena begitu indahnya. Tangga naik dan turun begitu banyak tersusun rapi sebagai akses menuju  beach point. Nampaknya beach point ini masih dikelola swadaya oleh masyarakat.

 ImageImage

Setelah dari beach point kami menuju padang beach. Padang beach adalah suatu pantai kecil yang lebih mirip pantai pribadi. Kami tidak begitu lama disana, selain karena waktu sudah sore tempantnya pun begitu kecil.

Sebelum kembali ke hotel kami menyempatkan diri mengunjungi discovery mall. Sebuah mall dekat pantai kuta. Kami berkeliling lalu makan di pinggir pantai. Tepat pukul 18.00 kami sudah berada di hotel.

Keesokan harinya, jum’at 8 juni 2012, kami bertolak pulang menuju Jakarta.

 

Untukmu, yang tercinta istriku.

 

 

Kotabaru, 22 jui 2012

 

Ridwan Noor Falah

Suami mu

 

 

 

 

Comments on: "Bali, setiap menit yang kuhitung" (1)

  1. catering di denpasar bali said:

    Keren nih tulisannya, keep posting ya…
    Sudah Coba Empat Tempat Makan Unik Di Bali
    Klik http://goo.gl/ZGcfU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: